Pontensi yang mengiurkan.......

Potensi Batubara Di Dunia dan Indonesia


Oleh : Ludfhi Firmanto

Dunia saat ini mengkonsumsi batu bara sebanyak lebih dari 4050 Jt. Batu bara digunakan diberbagai sektor – termasuk pembangkit listrik, produksi besi dan baja, pabrik semen dan sebagai bahan bakar cair. Batu bara kebanyakan digunakan untuk alat pembangkit listrik – batu bara ketel uap atau lignit – atau produksi besi dan baja – batu bara kokas.

Cadangan Batubara Dunia

Pada tahun 1996 diestimasikan terdapat sekitar satu exagram (1 × 1015 kg atau 1 trilyun ton) total batu bara yang dapat ditambang menggunakan teknologi tambang saat ini, diperkirakan setengahnya merupakan batu bara keras. Nilai energi dari semua batu bara dunia adalah 290 zettajoule . Dengan konsumsi global saat ini adalah 15 terawatt , terdapat cukup batu bara untuk menyediakan energi bagi seluruh dunia untuk 600 tahun.

British Petroleum, pada Laporan Tahunan 2006, memperkirakan pada akhir 2005, terdapat 909.064 juta ton cadangan batu bara dunia yang terbukti (9,236 × 1014 kg), atau cukup untuk 155 tahun (cadangan ke rasio produksi). Angka ini hanya cadangan yang diklasifikasikan terbukti, program bor eksplorasi oleh perusahaan tambang, terutama sekali daerah yang di bawah eksplorasi, terus memberikan cadangan baru.

Departemen Energi Amerika Serikat memperkirakan cadangan batu bara di Amerika Serikat sekitar 1.081.279 juta ton (9,81 × 1014 kg), yang setara dengan 4.786 BBOE (billion barrels of oil equivalent).

Cadangan Batubara Dunia Pada Akhir Tahun 2005 (dalam juta ton)

Negara

Bituminus (termasuk Antrasit)

Sub - Bituminus

Lignit

Total

Amerika Serikat

115.891

101.021

33.082

249.994

Federasi Rusia

49.088

97.472

10.450

157.010

China

62.200

33.700

18.600

114.500

India

82.396


2.000

84.396

Australia

42.550

1.840

37.700

82.090

Jerman

23.000


43.000

66.000

Afrika Selatan

49.520



49.520

Ukraina

16.274

15.946

1.933

34.153

Kazakhstan

31.000


3.000

34.000

Polandia

20.300


1.860

22.160

Serbia, Montenegro

64

1.460

14.732

16.256

Brasil


11.929


11.929

Kolombia

6.267

381


6.648

Kanada

3.471

871

2.236

6.578

Ceko

2.114

3.414

150

5.678

Indonesia

790

1.430

3.150

5.370




Produksi Batubara Dunia

Produksi batubara saat ini berjumlah lebih dari 4030 Jt – suatu kenaikan sebesar 38% selama 20 tahun terakhir. Pertumbuhan produksi batubara yang tercepat terjadi di Asia, sementara produksi batubara di Eropa menunjukkan penurunan.

Negara penghasil batu bara terbesar tidak hanya terbatas pada satu daerah – lima negara penghasil batubara terbesar adalah Cina, AS, India, Australia dan Afrika Selatan. Sebagian besar dari produksi batubara dunia digunakan di negara tempat batubara tersebut di produksi, hanya sekitar 18% dari produksi antrasit yang ditujukan untuk pasar batubara internasional.

Produksi batubara dunia diharapkan mencapai 7 milyar ton pada tahun 2030 – dengan Cina memproduksi sekitar setengah dari kenaikan itu selama jangka waktu tersebut. Produksi batubara ketel uap diproyeksikan akan mencapai sekitar 5,2 milyar ton; batubara kokas 624 juta ton; dan batubara muda 1,2 milyar ton.

Negara Pengekspor Batubara

Negara

2003

2004

Australia

238,1

247,6

Amerika Serikat

43,0

48,0

Afrika Selatan

78,7

74,9

Bekas Uni Soviet

41,0

55,7

Polandia

16,4

16,3

Kanada

27,7

28,8

Republik Rakyat Cina

103,4

95,5

Amerika Selatan

57,8

65,9

Indonesia

107,8

131,4

TOTAL

713,9

764,0




Konsumsi Batubara Dunia

Batubara memainkan peran yang penting dalam membangkitkan tenaga listrik dan peran tersebut terus berlangsung. Saat ini batubara menjadi bahan bakar pembangkit listrik dunia sekitar 39% dan proporsi ini diharapkan untuk tetap berada pada tingkat demikian selama 30 tahun ke depan.

Konsumsi batubara ketel uap diproyeksikan untuk tumbuh sebesar 1,5% per tahun dalam jangka waktu 2002-2030. Batubara muda , yang juga dipakai untuk membangkitkan tenaga listrik, akan tumbuh sebesar 1% per tahun. Kebutuhan batubara kokas dalam industri besi dan baja diperkirakan akan mengalami kenaikan sebesar 0,9% per tahun selama jangka waktu tersebut.

Pasar batubara yang terbesar adalah Asia, yang saat ini mengkonsumsi 54% dari konsumsi batubara dunia – walaupun Cina akan memasok batubara dalam proporsi yang besar. Banyak negara yang tidak memiliki sumber daya energi alami yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi mereka dan oleh karena itu mereka harus mengimpor energi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contohnya Jepang, Cina Taipei dan Korea, mengimpor batubara ketel uap untuk membangkitkan listrik dan batubara kokas untuk produksi baja dalam jumlah yang besar.
Bukan hanya kekurangan pasokan batubara setempat yang membuat negara-negara

mengimpor batubara, tapi demi untuk memperoleh batubara dengan jenis tertentu. Contohnya penghasil batubara terbesar seperti Cina, AS dan India, juga mengimpor batubara karena alasan mutu dan logistik.

Batubara akan terus memainkan peran penting dalam campuran energi dunia, dengan kebutuhan di wilayah tertentu yang diperkirakan akan tumbuh dengan cepat. Pertumbuhan pasar batu bara ketel; uap dan batu bara kokas akan sangat kuat di negara-negara berkembang di Asia, dimana kebutuhan akan listrik dan akan baja dalam konstruksi, produksi mobil dan kebutuhan akan peralatan rumah tangga akan meningkat sejalan dengan bertambahnya penghasilan.

Batubara di Indonesia

Di Indonesia, endapan batubara yang bernilai ekonomis terdapat di cekungan Tersier, yang terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk Pulau Sumatera dan Kalimantan), pada umumnya endapan batubara ekonomis tersebut dapat dikelompokkan sebagai batu bara berumur Eosen atau sekitar Tersier Bawah, kira-kira 45 juta tahun yang lalu dan Miosen atau sekitar Tersier Atas, kira-kira 20 juta tahun yang lalu menurut Skala waktu geologi.

Batubara ini terbentuk dari endapan gambut pada iklim purba sekitar khatulistiwa yang mirip dengan kondisi kini. Beberapa diantaranya tegolong kubah gambut yang terbentuk di atas muka air tanah rata-rata pada iklim basah sepanjang tahun. Dengan kata lain, kubah gambut ini terbentuk pada kondisi dimana mineral-mineral anorganik yang terbawa air dapat masuk ke dalam sistem dan membentuk lapisan batubara yang berkadar abu dan sulfur rendah dan menebal secara lokal. Hal ini sangat umum dijumpai pada batu bara Miosen. Sebaliknya, endapan batu bara Eosen umumnya lebih tipis, berkadar abu dan sulfur tinggi. Kedua umur endapan batu bara ini terbentuk pada lingkungan lakustrin, dataran pantai atau delta, mirip dengan daerah pembentukan gambut yang terjadi saat ini di daerah timur Sumatera dan sebagian besar Kalimantan.

Endapan batu bara Eosen

Endapan ini terbentuk pada tatanan tektonik ekstensional yang dimulai sekitar Tersier Bawah atau Paleogen pada cekungan-cekungan sedimen di Sumatera dan Kalimantan.

Ekstensi berumur Eosen ini terjadi sepanjang tepian Paparan Sunda, dari sebelah barat Sulawesi, Kalimantan bagian timur, Laut Jawa hingga Sumatera. Dari batuan sedimen yang pernah ditemukan dapat diketahui bahwa pengendapan berlangsung mulai terjadi pada Eosen Tengah. Pemekaran Tersier Bawah yang terjadi pada Paparan Sunda ini ditafsirkan berada pada tatanan busur dalam, yang disebabkan terutama oleh gerak penunjaman Lempeng Indo-Australia. Lingkungan pengendapan mula-mula pada saat Paleogen itu non-marin, terutama fluviatil, kipas aluvial dan endapan danau yang dangkal.

Di Kalimantan bagian tenggara, pengendapan batu bara terjadi sekitar Eosen Tengah - Atas namun di Sumatera umurnya lebih muda, yakni Eosen Atas hingga Oligosen Bawah. Di Sumatera bagian tengah, endapan fluvial yang terjadi pada fasa awal kemudian ditutupi oleh endapan danau (non-marin). Berbeda dengan yang terjadi di Kalimantan bagian tenggara dimana endapan fluvial kemudian ditutupi oleh lapisan batu bara yang terjadi pada dataran pantai yang kemudian ditutupi di atasnya secara transgresif oleh sedimen marin berumur Eosen Atas.

Endapan batubara Eosen yang telah umum dikenal terjadi pada cekungan berikut: Pasir dan Asam-asam (Kalimantan Selatan dan Timur), Barito (Kalimantan Selatan), Kutai Atas (Kalimantan Tengah dan Timur), Melawi dan Ketungau (Kalimantan Barat), Tarakan (Kalimantan Timur), Ombilin (Sumatera Barat) dan Sumatera Tengah (Riau).




Endapan batu bara Miosen

Pada Miosen Awal, pemekaran regional Tersier Bawah - Tengah pada Paparan Sunda telah berakhir. Pada Kala Oligosen hingga Awal Miosen ini terjadi transgresi marin pada kawasan yang luas dimana terendapkan sedimen marin klastik yang tebal dan perselingan sekuen batugamping. Pengangkatan dan kompresi adalah kenampakan yang umum pada tektonik Neogen di Kalimantan maupun Sumatera. Endapan batubara Miosen yang ekonomis terutama terdapat di Cekungan Kutai bagian bawah (Kalimantan Timur), Cekungan Barito (Kalimantan Selatan) dan Cekungan Sumatera bagian selatan. Batubara Miosen juga secara ekonomis ditambang di Cekungan Bengkulu.

Batubara ini umumnya terdeposisi pada lingkungan fluvial, delta dan dataran pantai yang mirip dengan daerah pembentukan gambut saat ini di Sumatera bagian timur. Ciri utama lainnya adalah kadar abu dan belerang yang rendah. Namun kebanyakan sumberdaya batu bara Miosen ini tergolong sub-bituminus atau lignit sehingga kurang ekonomis kecuali jika sangat tebal (PT Adaro) atau lokasi geografisnya menguntungkan. Namun batu bara Miosen di beberapa lokasi juga tergolong kelas yang tinggi seperti pada Cebakan Pinang dan Prima (PT KPC), endapan batu bara di sekitar hilir Sungai Mahakam, Kalimantan Timur dan beberapa lokasi di dekat Tanjungenim, Cekungan Sumatera bagian selatan.


Sumber Daya Batubara di Indonesia

Potensi sumberdaya batu bara di Indonesia sangat melimpah, terutama di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera, sedangkan di daerah lainnya dapat dijumpai batu bara walaupun dalam jumlah kecil dan belum dapat ditentukan keekonomisannya, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua, dan Sulawesi.

Di Indonesia, batu bara merupakan bahan bakar utama selain solar (diesel fuel) yang telah umum digunakan pada banyak industri, dari segi ekonomis batu bara jauh lebih hemat dibandingkan solar, dengan perbandingan sebagai berikut: Solar Rp 0,74/kilokalori sedangkan batu bara hanya Rp 0,09/kilokalori, (berdasarkan harga solar industri Rp. 6.200/liter).

Dari segi kuantitas batu bara termasuk cadangan energi fosil terpenting bagi Indonesia. Jumlahnya sangat berlimpah, mencapai puluhan milyar ton. Jumlah ini sebenarnya cukup untuk memasok kebutuhan energi listrik hingga ratusan tahun ke depan. Sayangnya, Indonesia tidak mungkin membakar habis batu bara dan mengubahnya menjadi energis listrik melalui PLTU. Selain mengotori lingkungan melalui polutan CO2, SO2, NOx dan CxHy cara ini dinilai kurang efisien dan kurang memberi nilai tambah tinggi.

Batu bara sebaiknya tidak langsung dibakar, akan lebih bermakna dan efisien jika dikonversi menjadi migas sintetis, atau bahan petrokimia lain yang bernilai ekonomi tinggi. Dua cara yang dipertimbangkan dalam hal ini adalah likuifikasi (pencairan) dan gasifikasi (penyubliman) batu bara.

Membakar batu bara secara langsung (direct burning) telah dikembangkan teknologinya secara continue, yang bertujuan untuk mencapai efisiensi pembakaran yang maksimum, cara-cara pembakaran langsung seperti: fixed grate, chain grate, fluidized bed, pulverized, dan lain-lain, masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahannya.

Perdagangan Batubara Di Dunia

Batubara diperdagangkan di seluruh dunia, dimana batubara diangkut dengan menggunakan kapal untuk pasar-pasar dengan jarak yang jauh.
Selama lebih dari 20 tahun, perdagangan batubara ketel uap melalui jalur laut mengalami kenaikan rata – rata sebesar 8% setiap tahunnya, sementara perdagangan batubara kokas melalui jalur laut mengalami kenaikan sebesar 2% per tahun. Di tahun 2003, keseluruhan perdagangan batubara internasional mencapai 718 Jt; sementara hal ini merupakan jumlah batubara yang besar namun jumlah tersebut hanyalah 18% dari jumlah keseluruhan dari batubara yang dikonsumsi.

Biaya pengangkutan memberikan bagian yang besar dari harga penyerahan batubara keseluruhan, oleh karena itu perdagangan internasional batubara ketel uap secara efektif dibagi menjadi dua pasar regional – Atlantik dan Pasifik. Pasar Atlantik ditujukan untuk negara-negara pengekspor batubara di Eropa Barat, terutama Inggris, Jerman dan Spanyol. Pasar Pasifik terdiri dari negara-negara berkembang dan pengimpor di Asia dan negara-negara di ASIA yang tergabung dalam OECD , terutama Jepang, Korea dan Cina Taipei. Pasar Pasifik saat ini mencakup sekitar 60% perdagangan batu bara ketel uap dunia. Pasar batubara cenderung untuk tumpang tindih pada saat harga batubara tinggi sementara pasokan menumpuk. Afrika Selatan merupakan titik antara alami dari kedua pasar tersebut.

Australia adalah pengekspor batu bara terbesar di dunia; mengekspor lebih dari 207 Jt antrasit di tahun 2003, dari jumlah total produksinya sebesar 274 Jt. Batubara adalah salah satu dari komiditas ekspor Australia yang paling bernilai. Walaupun hampir tiga perempat ekspor batubara Australia di lempar ke pasar Asia, batubara Australia digunakan di seluruh dunia, termasuk Eropa, Amerika dan Afrika.

Perdagangan internasional batubara kokas terbatas. Australia juga merupakan pemasok batubara kokas terbesar, dengan jumlah ekspor dunia sebesar 51%. AS dan Kanada merupakan pengekspor yang penting dan Cina mulai menjadi pemasok penting. Harga batubara kokas lebih tinggi daripada batubara ketel uap, yang berarti Australia mampu untuk memperoleh tarif franco yang tinggi dalam mengekpor batubara kokas ke seluruh dunia.

REFERENSI

Crickmer, Douglas F. 1981. Elements Of Practical Coal Mining. New York : Society of Mining Engineers of The American Institute Of Mining, Metallurgical, and Petroleum Engineers, Inc.

http://encarta.msn.com
http://id.wikipedia.org
http://www.worldcoal.org
http://www.stoke.gov.uk



Pemikiran tentang :

0 Tanggapan Teman ?:

Poskan Komentar

About Me

Foto saya
I'll Becoming a good Profesional Worker,Student, and adventurer

Timeliness....

The Calender

Search Your Think.....

Memuat...

Yahoo News: Top Stories

Forecast Weather

Crude Oil Prices

Rupiah Exchange Rates ( IDR )

Translate Our Language....

Arsip Blog

Rush hour Blog

Fight To our Earth....Go green

Brighter Planet's 350 Challenge
NonCommercial,Nonprofit. Diberdayakan oleh Blogger.