Pantura Vs mangrove semakin kritis

Pantura Jawa Paling Kritis
Jepang Bantu Rehabilitasi Mangrove 700 Hektar


Jakarta, Kompas - Pantai utara Jawa merupakan daerah paling kritis terkena
dampak kenaikan paras muka laut akibat perubahan iklim. Daerah kritis ini
terbentang dari Pantai Dadap di Tangerang, Kali Baru di Jakarta Utara,
Kabupaten Subang dan Indramayu di Jawa Barat, hingga Pekalongan, Semarang,
dan Demak di Jawa Tengah.

Daerah-daerah tersebut sangat rawan terendam air laut yang permukaannya naik
akibat perubahan iklim. Jika permukaan air laut naik, berdampak luas pada
permukiman penduduk, ekosistem, serta infrastruktur, seperti pelabuhan dan
jembatan.

”Kenaikan muka laut juga berdampak pada jasa pelayanan dan dampak sosial
ekonomi lainnya,” kata Direktur Pesisir dan Lautan Kementerian Kelautan dan
Perikanan Subandono Diposaptono dalam diskusi terbatas ”Mengoptimalkan
Potensi Kelautan” di Redaksi Kompas, Kamis (11/2).

Hadir pula pada kesempatan tersebut Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel
Muhammad, serta Kepala Riset dan Kebijakan Ekonomi pada Pusat Kajian
Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim Suhana.

Untuk menentukan kerentanan pantai dan potensi bahaya suatu wilayah, lanjut
Subandono, antara lain, dihitung dari geomorfologi, erosi garis pantai,
kemiringan pantai, dan perubahan elevasi muka air relatif. Selain itu,
dihitung pula tinggi rata-rata gelombang dan rata-rata kisaran pasang surut.

Laju kenaikan paras muka laut berdasarkan pengukuran di sejumlah wilayah
pantura Jawa, menurut Subandono, mencapai 5-10 mm per tahun. ”Geomorfologi
di pantura Jawa sebagian besar landai sehingga meningkatkan kerentanan pada
kenaikan paras muka laut,” ujarnya.

Hingga 2,85 kilometer
Subandono memaparkan simulasi Kota Pekalongan, Jawa Tengah, yang terdampak
kenaikan paras muka laut setiap 20 tahun hingga 100 tahun ke depan.

”Jangkauan pada 100 tahun ke depan, laut akan menggenangi Kota Pekalongan
hingga 2,85 kilometer dari garis pantai sekarang,” kata Subandono.

Dari simulasi itu, dinyatakan luas Kota Pekalongan akan hilang 19.564
hektar. Sebanyak 265.725 rumah dan 1.062.900 orang penduduk akan terkena
dampaknya.

Lebih lanjut, hasil simulasi di Kota Pekalongan menunjukkan, 4.731,7 hektar
tambak akan lenyap. Sawah irigasi 4.993,1 hektar dan sawah tegalan seluas
3.115,1 hektar bakal musnah.

Upaya mitigasi secara sistematis untuk mengantisipasi kerentanan wilayah,
seperti Kota Pekalongan, menjadi hal yang penting. Subandono mengatakan,
salah satu program Kementerian Kelautan dan Perikanan, yaitu merehabilitasi
mangrove di pantura Jawa. Menurut dia, Jepang akan membantu rehabilitasi
mangrove di pantura Jawa seluas 700 hektar.

Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan Riza Damanik,
selaku moderator diskusi, menanggapi upaya mitigasi pantura Jawa, terutama
terkait penanaman mangrove yang dikerjakan di muara Sungai Porong, Sidoarjo,
Jawa Timur. ”Penanaman mangrove di muara sungai tempat penyaluran lumpur
Lapindo itu ingin mengesankan pencemaran sudah teratasi. Padahal, lumpur
Lapindo tetap saja mencemari sungai dan laut,” ujarnya. (NAW)

Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/12/04061079/pantura.jawa.paling.kritis

Pemikiran tentang :

0 Tanggapan Teman ?:

Poskan Komentar

About Me

Foto saya
I'll Becoming a good Profesional Worker,Student, and adventurer

Timeliness....

The Calender

Search Your Think.....

Memuat...

Yahoo News: Top Stories

Forecast Weather

Crude Oil Prices

Rupiah Exchange Rates ( IDR )

Translate Our Language....

Rush hour Blog

Fight To our Earth....Go green

Brighter Planet's 350 Challenge
NonCommercial,Nonprofit. Diberdayakan oleh Blogger.