workplace violence

Kekerasan di Tempat Kerja

Dalam beberapa tahun terakhir, isu tentang kekerasan dalam kerja ini telah mendapat perhatian dari psikolog dan ahli sumber daya manusia. Terjadinya kekerasan dalam kerja, khususnya yang berhubungan dengan kekerasan fisik, digolongkan ke dalam tiga kategori:

· 71% kekerasan terhadap karyawan sebagai akibat dari sebuah kejahatan.

· 14% kekerasan terhadap petugas-petugas penegak hukum, seperti polisi dan satpam, ketika mereka sedang bertugas.

· 15% kekerasan terhadap karyawan atau atasan sebagai suatu pelampiasan kemarahan atau dendam oleh karyawan lain atau pelanggan.

Emotional abuse sebagai salah satu bentuk kekerasan dalam kerja

Salah bentuk workplace violence yang populer adalah emotional abuse. Emotional abuse adalah tingkah laku, baik fisik maupun nonfisik, serta sikap yang bertujuan mengontrol, mengintimidasi, menaklukkan, merendahkan, menghukum, atau mengucilkan orang lain. Mobbing & bullying disebut juga emotional abuse karena mobbing” bermakna perilaku teman kerja, atasan atau bawahan yang menyerang harga diri, integritas dan kompetensi seseorang (karyawan) secara berulang-ulang, dalam jangka waktu mingguan, bulanan atau bahkan tahunan.

Dr. Leyman (1986) mengidentifikasi sekitar 45 perilaku mobbing, yang salah satu contohnya seperti :

Mengintimidasi seseorang

Mengucilkan atau mengisolasi seseorang secara sosial

Menyebarkan gosip jahat yang tidak benar

Berteriak

Mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh atau tidak sopan

Meremehkan opini atau pekerjaan seseorang

Menahan informasi

Definisi kekerasan dalam kerja meliputi tindakan-tindakan berikut ini (Canadian Centre for Occupational Health and Safety) :

Perilaku mengancam

Serangan fisik

Pelecehan verbal (verbal abuse)

Ancaman secara verbal atau tulisan

Harassment (perilaku apapun yang mempermalukan, menganggu, atau melecehkan seseorang secara verbal)

Ciri-ciri orang yang suka melakukan emotional abuse

Yang harus kita sadari, bahwa terdapat ciri – ciri orang yang suka melakukan emotional abuse adalah sebagai berikut:

Sulit mengendalikan diri (secara emotional dan perilaku) agresif, dan cenderung impulsive.

Punya kadar percaya diri rendah, cenderung bergantung pada orang lain dan sering mementingkan diri sendiri.

Memiliki tuntutan tinggi terhadap dirinya dan orang lain.

Sulit menjalin hubungan dengan orang lain

Punya sejarah gangguan psikologis atau gangguan kepribadia atau pernah terkenaemotional abuse baik saat kanak-kanak maupun dewasa.


Waspada Emotional Abuse

Mereka yang biasanya menjadi korban emotional abuse adalah orang yang berpribadi tidak stabil atau belum matang, bergantung pada orang lain, tidak percaya diri, mudah percaya dengan orang lain, serta kurang bisa mengekspresikan dirinya atau pasif.

Agar terhindar dari emotional abuse dikantor, tingkatkan kewaspadaan. Mawas diri jika rekan atau atasan :

1. Selalu berusaha mengontrol tingkah laku orang lain.

2. Melakukan serangan verbal

3. Terlihat seperti tidak pernah puas

4. Menampilkan respon tidak terduga secara terus menerus

5. Menampakkan gejala sebagai pencipta konflik

6. Melancarkan serangan terhadap anda

7. Terus menerus menunjukkan sikap tidak bersahabat

8. Melakukan Intervensi terhadap Anda

9. Bertindak Kasar

10.Terlihat seperti ingin membuat anda tidak kompeten

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam kerja, termasuk emotional abuse:

a. Menempatkan karyawan dalam posisi yang sesuai dengan keterampilan mereka. Dengan cara ini, individu merasa bahwa mereka melakukan pekerjaan yang bermakna dan penting.

b. Memberikan job description yang jelas dan pengawasan yang suportif, sehingga setiap orang tahu apa yang harus dilakukan dan dapat menerima bantuan atau bimbingan apapun yang dibutuhkan. Pendekatan ini dapat mengurangi kemarahan atau rasa permusuhan yang dialami ketika karyawan merasa frustrasi dengan pekerjaan.

c. Menyadari dan menghargai perbedaan budaya diantara karyawan pada berbagai tingkat sehingga tiap karyawan merasa bahwa ia merupakan bagian dari kelompok, bukannya orang luar.

d. Mengadakan review secara periodik terhadap performa kerja dan memberikan reward atas hasil kerja. Sehingga memastikan bahwa ketika mereka melakukan pekerjaan yang baik, organisasi akan menunjukkan penghargaannya.

e. Memberikan jaminan dalam kerja sehingga karyawan tidak merasa khawatir akan diberhentikan tiba-tiba.

Adapun tips untuk bagaimana cara membantu rekan kerja yang mengalami emotional abuseadalah sebagai berikut:


a. Ajaklah berbagi

b. Memberi dukungan

c. Tunjukkan rasa kebersamaan

d. Ambil sikap tegas dan perlihatkan rasa tidak setuju anda terhadap perilaku buruk tersebut.

e. Jaga profesionalitas

Dengan uraian diharapkan kita dapat mengantisipasi terhadap perilaku emotional abuse yang termasuk dalam workplace violence dan menjadi pribadi yang lebih matang dalam bertindak.

Daftar pustaka,

Leyman, H. (1986). The Mobbing Encyclopaedia. http://www.leymann.se

www.ccohs.ca/



Pemikiran tentang :

0 Tanggapan Teman ?:

Poskan Komentar

About Me

Foto saya
I'll Becoming a good Profesional Worker,Student, and adventurer

Timeliness....

The Calender

Search Your Think.....

Memuat...

Yahoo News: Top Stories

Forecast Weather

Crude Oil Prices

Rupiah Exchange Rates ( IDR )

Translate Our Language....

Rush hour Blog

Fight To our Earth....Go green

Brighter Planet's 350 Challenge
NonCommercial,Nonprofit. Diberdayakan oleh Blogger.