Dilema Pembangunan daerah BAngka BElitung

Membangun Babel Tanpa Timah


Oleh *Emil Salim* **

Usaha pertambangan sering menimbulkan kesan ganda, di satu pihak usaha ini
penting bagi pembangunan menaikkan pendapatan negara, di lain pihak merusak
lingkungan sosial dan alam.

Bahan tambang adalah sumber daya alam tak terbarukan dan punya batas waktu
tertentu bisa terkuras sampai susut habis. Pertambangan jaya selama masih
ada bahan tambangnya, tetapi jadi petaka begitu bahan tambang habis dan
kegiatan ekonomi pindah ke tempat lain dengan meninggalkan ”kolong kosong”.

Teknik penambangan merusak adalah pola ”penambangan terbuka” mengupas kulit
Bumi untuk disedot bahan tambangnya. Hutan dan tumbuhan dicukur habis
termasuk untuk jaringan jalan dan perkampungan karyawannya. Pola penambangan
terbuka ini juga menghasilkan limbah sisa galian yang menjadi incaran
penambang rakyat. Hasil akhir penambangan terbuka adalah lubang galian
menjadi kolam air di bentangan kawasan tanah liat bercampur pasir.

Harga bahan tambang berada di tangan pengolah yang memprosesnya menjadi
barang jadi di negara maju. Keuntungan utama dalam pertambangan terletak
pada nilai tambah hasil processing bahan mentah tambang. Pemerintahan negara
maju sering menetapkan tarif bea masuk untuk barang jadi tambang lebih
tinggi daripada tarif bahan mentahnya. Karena itu, bagi pengusaha tambang
negara berkembang lebih menguntungkan mengekspor bahan mentah ke luar negeri
ketimbang memprosesnya di dalam negeri. Maka kecil perkembangan industri
processing bahan tambang di negara berkembang sehingga rendah dampak
kegiatan pertambangan pada penciptaan lapangan kerja.

Dengan penekanan usaha pada produksi bahan mentah dan ekspor, maka ”kaitan
ekonomi ke dalam negeri” tidak besar. Hasil manfaat usaha pertambangan lebih
besar terletak pada nilai devisa hasil ekspor yang berkaitan ”ke luar
negeri”. Apabila harga bahan tambang di pasar internasional naik tinggi,
maka hasrat mengekspor terpacu lebih besar dan semakin intensif penggalian
pertambangan.

*Menggeser pertanian*

Pulau Bangka Belitung (Babel) adalah unik karena terletak di ”lidah tambang
timah” yang terbentang dari Thailand- Malaysia-Singapura dan berhenti di
Babel. Timah tidak hanya terdapat di daratan, tetapi juga di lautan kawasan
ini.

Yang menarik bahwa Thailand dan Singapura mengalihkan titik berat ekonominya
dari pertambangan timah ke sektor ekonomi jasa, seperti pertanian,
pariwisata, dan perbankan yang dipandang lebih menyejahterakan rakyatnya.
Hanya Pulau Bangka selama puluhan tahun tetap mengandalkan pembangunannya
pada pertambangan timah. Bahkan, akibat kenaikan harga timah akhir-akhir
ini, ekonomi masyarakat tergeser dari pertanian ke penggalian tambang
inkonvensional. Dulu Pulau Babel dikenal dengan lada putihnya, tetapi kini
tanaman ini terdesak leyap oleh penambangan timah.

Kalangan ahli memperkirakan sumber alam tambang Pulau Babel akan susut habis
di tahun 2030. Jangka waktu 20 tahun, 2010-2030, mencakup satu generasi yang
perlu diajak mengubah paradigma menjadi ”Membangun Babel Tanpa Timah”
menjelang tahun 2030. Babel punya sumber daya alam tanah daratan, pantai dan
laut yang berpotensi luas menopang pola pembangunan Babel secara
berkelanjutan.

Ada kegiatan menarik dipelopori tokoh-tokoh terkemuka Babel untuk
menghijaukan dan merehabilitasi lahan tambang di sekitar Bandara Depati Amir
Pangkal Pinang dengan tanaman ketapang, jambu mente, cemara angina, dan
sengon. Lahan milik masyarakat dikelola bersama, tetapi status lahan tetap
milik masyarakat. Tanah areal bekas penambangan disuburkan dengan kotoran
dan urine sapi yang diolah jadi kompos dan disebar ke tanah areal bekas
penambangan.

Para tokoh pengusaha terkemuka Babel juga membangun Bangka Botanical Garden
(BBG) seluas 300 hektar di Ketapang, Pangkal Pinang, menjadi lokasi
pembibitan tanaman dan juga pemeliharaan jenis sapi FH perah, sapi
Limousine, sapi Brangus, sapi Simental, dan sapi Bali berjumlah 300 ekor.
Hasil susu sebanyak 300 liter sehari disumbangkan kepada murid-murid taman
kanak-kanak dan sekolah dasar. Dengan mengindahkan udara panas Pulau Bangka,
maka BBG mengembangkan buah bernilai tinggi, seperti buah naga merah yang
mulai banyak digemari di luar negeri.

Usaha BBG membuktikan bahwa areal lahan bekas penambangan timah bisa
”dihidupkan” kembali dengan pemupukan, pembibitan buah yang sesuai dengan
suhu udara. Juga bisa dikembangkan pembibitan ikan hias yang bernilai
tinggi.

Pantai pasir putih Babel, seperti tergambarkan dalam film Laskar Pelangi,
lebih indah dalam wujud aslinya dan memiliki potensi pariwisata tinggi
apabila ditopang prasarana jalan, listrik, air minum, dan lain-lain. Belum
lagi diangkat potensi wisata sejarah dengan hadirnya tempat-tempat
pengasingan para pemimpin kemerdekaan kita, Bung Karno, Bung Hatta, Haji
Agus Salim, Mohammad Roem, dan lain lain. Yang diperlukan adalah penuangan
tempat bersejarah bangsa dalam kisah menarik.

Maka, terpampang di hadapan kita ”Babel tanpa Timah” yang didasarkan pada
pengembangan multisektor mencakup sumber daya terbarukan pertanian,
perikanan, perkebunan, peternakan, pariwisata, dan sebagai pusat
pengembangan sumber daya manusia.

Banyak putra-putri Babel meraih posisi intelektual tinggi di luar Babel.
Jika di masa lalu perspektif masa depan hanya terbatas pada sektor tunggal
penambangan timah, kini tiba saatnya mengembangkan multisektor ekonomi Babel
menggantikan peranan pertambangan timah pasca-2030. Untuk ini diperlukan
pengembangan sumber daya manusia andal.

PT Timah merencanakan pembangunan Menara Timah yang menjulang tinggi sebagai
ikon Pulau Babel. PT Timah bisa berjasa besar apabila Menara Timah dijadikan
sentra pendidikan pascasarjana S-3, doktor, dan ilmuwan ulung dengan pusat
laboratorium, pusat perpustakaan, serta pusat sains dan teknologi yang mampu
menanggapi tantangan pembangunan membangun Babel tanpa timah dan
menjadikannya pusat Indonesia unggul umumnya abad ke-21 ini.

Emil Salim *Dosen Pascasarjana UI*

Sumber :
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/17/03191570/membangun.babel.tanpa.timah

Pemikiran tentang :

0 Tanggapan Teman ?:

Posting Komentar

Timeliness....

Search on blog

Translate

Forecast Weather

Rupiah Exchange Rates ( IDR )

Rush hour Blog

Fight To our Earth....Go green

Brighter Planet's 350 Challenge
NonCommercial,Nonprofit. Diberdayakan oleh Blogger.