Krisis dan penghematan

Krisis dan Penghematan Energi – Perspektif Global

Gita Stevani
[Kolomnis Ekonomi Pena Indonesia]

Penghematan bahan bakar adalah isu yang relevan dan mendesak, tidak
hanya di Indonesia tapi secara global. Tingkat konsumsi minyak
sekarang sedang secara cepat menuju tingkat yang tak tertanggungkan.

Apa saja yang kita konsumsi atau pakai—rumah, seisinya, mobil dan
jalan, baju yang kita pakai, dan makanan yang kita santap—memerlukan
energi untuk memproduksi dan mengemasnya, untuk mendistribusikannya ke
toko atau depan rumah kita, dan kemudian membuangnya ke tempat sampah.

Energi yang dibutuhkan untuk mendukung ekonomi dan gaya hidup memberi
kenyamanan dan keuntungan luar biasa. Tapi, juga menuntut biaya luar
biasa dalam kesehatan, ekosistem dan bahkan keamanan. Konsumsi energi
mempengaruhi segala hal, dari utang luar negeri hingga stabilitas
Timur Tengah, dari udara yang kita hirup hingga air yang kita minum.

Secara global kita menyaksikan bahwa efisiensi penggunaan energi
meningkat dalam beberapa dasawarsa terakhir, artinya makin sedikit
energi dibutuhkan untuk menghasilkan uang. Tapi, perkembangan bagus
itu dikalahkan oleh peningkatan terus-menerus dalam laju konsumsi
energi dunia. Konsumsi energi didorong oleh peningkatan jumlah
penduduk. Namun , sementara penduduk dunia meningkat tiga kali lipat
dari 1850 hingga 1970, peningkatan konsumsi energi naik lebih tajam
dari itu: 12 kali lipat.

Mengingat laju pertumbuhan penduduk lebih besar di negeri-negeri
miskin, jelaslah bahwa peningkatan eksponensial dalam konsumsi energi
terjadi di negeri-negeri kaya. Contoh ekstrem adalah Amerika Serikat,
negeri yang paling rakus energi. Penggunaan minyak di Amerika selama
satu dekade terakhir naik menjadi 2,7 juta barel per hari—lebih banyak
dari yang dikonsumsi India dan Pakistan sekaligus, yang keduanya
berisi total empat kali lipat penduduk Amerika. Secara total,
rata-rata orang Amerika mengkonsumsi lima kali lebih banyak energi
dari rata-rata warga dunia, 10 kali lebih dari rata-rata orang Cina,
dan 20 kali lebih banyak dari rata-rata orang India.

Cina adalah negeri yang sekarang pertumbuhan ekonominya paling cepat.
Dengan trend itu, jika rata-rata orang Cina mengkonsumsi energi sama
seperti orang Amerika, Cina membutuhkan 90 juta barel minyak per
hari—sementara produksi minyak dunia pada 2001 hanya 11 juta barel
saja setiap hari. Tekor.

Kebutuhan minyak seperti itu tidak akan bisa ditanggung. Di samping
mendorong pertumbuhan ekonomi, kita perlu ingat penggunaan minyak juga
memiliki ongkosnya sendiri: merosotnya kualitas kesehatan manusia,
kian buruknya ekosistem, dan bahkan instabilitas politik dunia.

Isu penghematan energi memang isu yang relevan. Masalahnya, siapa yang
harus berhemat. Di tingkat global, bukan negeri seperti Indonesia yang
harus menghemat atau membatasi penggunaan bahan bakar. Konsumsi minyak
per kapita di Indonesia jauh lebih kecil dari negeri-negeri lain.

Namun, bukan berarti kita di Indonesia harus melupakan cara untuk
menghemat energi. Seperti di tingkat global, ada kesenjangan besar
dalam konsumsi energi di tingkat nasional, antara orang kaya dan orang
miskin. Dan jika Indonesia harus menghemat, dengan mudah kita pun bisa
mendefinisikan siapa yang harus menahan diri untuk konsumsi energi,
yang jelas bukan orang-orang miskin.

Melalui pajak dan subsidi, regulasi dan standar, dan investasi di
infrastruktur, pemerintah mempengaruhi bagaimana, di mana, berapa
banyak dan bentuk energi yang dipakai rakyat. Tapi, kita para konsumen
bukanlah penonton pasif. Kita bisa berperan dalam penghematan energi.
Pada akhirnya konsumen yang menentukan apa yang kita beli dan pakai,
maka konsumen bisa mendorong perubahan.

Kini, transportasi merupakan pemakan energi terbesar di dunia, sekitar
30% dari penggunaan energi dunia dan 95% konsumsi minyak dunia.
Pendorong signifikan dari konsumsi energi untuk transportasi adalah
ketergantungan besar pada mobilk pribadi. Sekitar 40,6 juta mobil
penumpang dikeluarkan dari pabrik seluruh dunia pada 2002, lima kali
lipat dari 1950-an. Mobil penumpang kini berjumlah 531 juta, tumbuh
sekitar 11 juta setiap tahunnya. Sekitar seperempat mobil ada di
Amerika, tempat mobil dan truk memakan 40% konsumsi minyak nasional
dan menyumbang perubahan iklim dunia setara dampak seluruh aktivitas
ekonomi Jepang. Jarak total yang dilalui orang Amerika melebihi semua
negeri industri maju sekaligus.

Sebagai kontras, banyak negara mulai peduli pada transportasi publik
untuk membatasi pemakaian mobil pribadi. Di Jepang dan Eropa, banyak
investasi dalam infrastruktur transportasi setelah Perang Dunia II
terfokus pada kereta api dan sistem transit. Kini sekitar 92% dari
penumpang di kota Tokyo berpergian lewat rel, dan orang Jepang hanya
menggunakan 55% perjalanan mereka dengan mobil. Eropa Barat
menggunakan angkutan publik 10% dari total perjalanan dalam kota,
Kanada 7%, dibandingkan Amerika yang hanya 2%.

"Ongkos kemacetan" terhadap mobil yang masuk pusat kota, dibarengi
dengan investasi lebih baik pada transportasi umum, juga mengurangi
penggunaan mobil dan polusi. Di London, sebagai hasil dari penerapan
toll ke pusat kota pada 2003, tingkat lalu lintas turun rata-rata 16
persen dalam beberapa bulan pertama, dan banyak pengguna mobil mulai
memakai angkutan umum.

Transportasi hanya salah satu saja. Di seluruh dunia orang mengunakan
sepertiga energi untuk bangunan—pemanas, pendingin, memasak,
penerangan, dan menjalankan perlengakapn elektronik. Penggunaan energi
dalam gedung meningkat tajam, dan juga di rumah-rumah kita. Tapi ada
kesenjangan besar konsumsi enegeri beberapa negeri: orang di seluruh
Amerika dan Kanada menggunakan 2,4 lebih banyak energi dari
rumah-rumah di Eropa Barat.

Meski seperempat penduduk dunia tak punya rumah yang layak atau bahkan
tak punya rumah sama sekali, banyak rumah di dunia tumbuh kian luas
dan besar. Amerika sekali lagi contoh ekstrem: dari 1975 hingga 2000,
rumah-rumah baru di sana tumbuh 38% lebih luas, menjadi rata-rata 210
meter persegi—dua kali lipat dari rumah rata-rata di Eropa atau Jepang
dan 26 kali lipat dari ruang hidup rata-rata orang di Afrika.

Ketika rumah membesar, tiap rumah membutuhkan ruang lebih luas untuk
dipanaskan atau didinginkan, diterangi, dan lebih banyak perlengkapan.
Peralatan rumah tangga adalah pemakan konsumsi energi paling cepat
peningkatannya setelah mobil, yakni sekitar 30% konsumsi listrik
nasional dan menyumbang 12% emisi gas yang menyebabkan global warming.
Sementara itu, di negeri-negeri sedang berkembang, penjualan kulkas di
India saja diramalkan meningkat 14% setiap tahunnya.

Melalui subsidi, pajak, penegakan standar industri yang hemat bahan
bakar serta perlakuan lain, kebijakan pemerintah memiliki dampak
langsung pada permintaan dan pasokan energi, efisiensi rumah,
peralatan, mobil dan pabrik-pabrik.

Di Denmark, pajak untuk pendaftaran mobil dibuat sedemikian rupa
sehingga sangat tinggi, melebihi harga jual eceran mobil, sementara
infrastruktur kereta api dan sepeda diperbaiki. Dampaknya: lebih 30%
keluarga tidak memiliki mobil. Jika pemerintah atau perusahaan
mensubsidi transportasi publik, orang akan lebih suka naik bus dan
subway ketimbang dengan sedan.

Di tingkat global, negeri-negeri seperti Amerika lah yang harus
menahan diri untuk mengurangi kerakusannya akan bahan bakar.
Sayangnya, Presiden George Bush tak nampak tergerak. Negeri itu sampai
sekarang menolak Protokol Kyoto yang mengatur emisi buangan energi
agar tidak merusak lingkungan bumi makin jauh.

Di tingkat nasional Indonesia, orang-orang kaya juga harus menahan
diri. Jika mereka tidak bisa menahan diri, pemerintahlah yang
berkewajiban memaksa, melalui instrumen pajak serta kebijakan publik
lainnya.*

Krisis dan Penghematan Energi – Perspektif Global

Gita Stevani
[Kolomnis Ekonomi Pena Indonesia]

Penghematan bahan bakar adalah isu yang relevan dan mendesak, tidak
hanya di Indonesia tapi secara global. Tingkat konsumsi minyak
sekarang sedang secara cepat menuju tingkat yang tak tertanggungkan.

Apa saja yang kita konsumsi atau pakai—rumah, seisinya, mobil dan
jalan, baju yang kita pakai, dan makanan yang kita santap—memerlukan
energi untuk memproduksi dan mengemasnya, untuk mendistribusikannya ke
toko atau depan rumah kita, dan kemudian membuangnya ke tempat sampah.

Energi yang dibutuhkan untuk mendukung ekonomi dan gaya hidup memberi
kenyamanan dan keuntungan luar biasa. Tapi, juga menuntut biaya luar
biasa dalam kesehatan, ekosistem dan bahkan keamanan. Konsumsi energi
mempengaruhi segala hal, dari utang luar negeri hingga stabilitas
Timur Tengah, dari udara yang kita hirup hingga air yang kita minum.

Secara global kita menyaksikan bahwa efisiensi penggunaan energi
meningkat dalam beberapa dasawarsa terakhir, artinya makin sedikit
energi dibutuhkan untuk menghasilkan uang. Tapi, perkembangan bagus
itu dikalahkan oleh peningkatan terus-menerus dalam laju konsumsi
energi dunia. Konsumsi energi didorong oleh peningkatan jumlah
penduduk. Namun , sementara penduduk dunia meningkat tiga kali lipat
dari 1850 hingga 1970, peningkatan konsumsi energi naik lebih tajam
dari itu: 12 kali lipat.

Mengingat laju pertumbuhan penduduk lebih besar di negeri-negeri
miskin, jelaslah bahwa peningkatan eksponensial dalam konsumsi energi
terjadi di negeri-negeri kaya. Contoh ekstrem adalah Amerika Serikat,
negeri yang paling rakus energi. Penggunaan minyak di Amerika selama
satu dekade terakhir naik menjadi 2,7 juta barel per hari—lebih banyak
dari yang dikonsumsi India dan Pakistan sekaligus, yang keduanya
berisi total empat kali lipat penduduk Amerika. Secara total,
rata-rata orang Amerika mengkonsumsi lima kali lebih banyak energi
dari rata-rata warga dunia, 10 kali lebih dari rata-rata orang Cina,
dan 20 kali lebih banyak dari rata-rata orang India.

Cina adalah negeri yang sekarang pertumbuhan ekonominya paling cepat.
Dengan trend itu, jika rata-rata orang Cina mengkonsumsi energi sama
seperti orang Amerika, Cina membutuhkan 90 juta barel minyak per
hari—sementara produksi minyak dunia pada 2001 hanya 11 juta barel
saja setiap hari. Tekor.

Kebutuhan minyak seperti itu tidak akan bisa ditanggung. Di samping
mendorong pertumbuhan ekonomi, kita perlu ingat penggunaan minyak juga
memiliki ongkosnya sendiri: merosotnya kualitas kesehatan manusia,
kian buruknya ekosistem, dan bahkan instabilitas politik dunia.

Isu penghematan energi memang isu yang relevan. Masalahnya, siapa yang
harus berhemat. Di tingkat global, bukan negeri seperti Indonesia yang
harus menghemat atau membatasi penggunaan bahan bakar. Konsumsi minyak
per kapita di Indonesia jauh lebih kecil dari negeri-negeri lain.

Namun, bukan berarti kita di Indonesia harus melupakan cara untuk
menghemat energi. Seperti di tingkat global, ada kesenjangan besar
dalam konsumsi energi di tingkat nasional, antara orang kaya dan orang
miskin. Dan jika Indonesia harus menghemat, dengan mudah kita pun bisa
mendefinisikan siapa yang harus menahan diri untuk konsumsi energi,
yang jelas bukan orang-orang miskin.

Melalui pajak dan subsidi, regulasi dan standar, dan investasi di
infrastruktur, pemerintah mempengaruhi bagaimana, di mana, berapa
banyak dan bentuk energi yang dipakai rakyat. Tapi, kita para konsumen
bukanlah penonton pasif. Kita bisa berperan dalam penghematan energi.
Pada akhirnya konsumen yang menentukan apa yang kita beli dan pakai,
maka konsumen bisa mendorong perubahan.

Kini, transportasi merupakan pemakan energi terbesar di dunia, sekitar
30% dari penggunaan energi dunia dan 95% konsumsi minyak dunia.
Pendorong signifikan dari konsumsi energi untuk transportasi adalah
ketergantungan besar pada mobilk pribadi. Sekitar 40,6 juta mobil
penumpang dikeluarkan dari pabrik seluruh dunia pada 2002, lima kali
lipat dari 1950-an. Mobil penumpang kini berjumlah 531 juta, tumbuh
sekitar 11 juta setiap tahunnya. Sekitar seperempat mobil ada di
Amerika, tempat mobil dan truk memakan 40% konsumsi minyak nasional
dan menyumbang perubahan iklim dunia setara dampak seluruh aktivitas
ekonomi Jepang. Jarak total yang dilalui orang Amerika melebihi semua
negeri industri maju sekaligus.

Sebagai kontras, banyak negara mulai peduli pada transportasi publik
untuk membatasi pemakaian mobil pribadi. Di Jepang dan Eropa, banyak
investasi dalam infrastruktur transportasi setelah Perang Dunia II
terfokus pada kereta api dan sistem transit. Kini sekitar 92% dari
penumpang di kota Tokyo berpergian lewat rel, dan orang Jepang hanya
menggunakan 55% perjalanan mereka dengan mobil. Eropa Barat
menggunakan angkutan publik 10% dari total perjalanan dalam kota,
Kanada 7%, dibandingkan Amerika yang hanya 2%.

"Ongkos kemacetan" terhadap mobil yang masuk pusat kota, dibarengi
dengan investasi lebih baik pada transportasi umum, juga mengurangi
penggunaan mobil dan polusi. Di London, sebagai hasil dari penerapan
toll ke pusat kota pada 2003, tingkat lalu lintas turun rata-rata 16
persen dalam beberapa bulan pertama, dan banyak pengguna mobil mulai
memakai angkutan umum.

Transportasi hanya salah satu saja. Di seluruh dunia orang mengunakan
sepertiga energi untuk bangunan—pemanas, pendingin, memasak,
penerangan, dan menjalankan perlengakapn elektronik. Penggunaan energi
dalam gedung meningkat tajam, dan juga di rumah-rumah kita. Tapi ada
kesenjangan besar konsumsi enegeri beberapa negeri: orang di seluruh
Amerika dan Kanada menggunakan 2,4 lebih banyak energi dari
rumah-rumah di Eropa Barat.

Meski seperempat penduduk dunia tak punya rumah yang layak atau bahkan
tak punya rumah sama sekali, banyak rumah di dunia tumbuh kian luas
dan besar. Amerika sekali lagi contoh ekstrem: dari 1975 hingga 2000,
rumah-rumah baru di sana tumbuh 38% lebih luas, menjadi rata-rata 210
meter persegi—dua kali lipat dari rumah rata-rata di Eropa atau Jepang
dan 26 kali lipat dari ruang hidup rata-rata orang di Afrika.

Ketika rumah membesar, tiap rumah membutuhkan ruang lebih luas untuk
dipanaskan atau didinginkan, diterangi, dan lebih banyak perlengkapan.
Peralatan rumah tangga adalah pemakan konsumsi energi paling cepat
peningkatannya setelah mobil, yakni sekitar 30% konsumsi listrik
nasional dan menyumbang 12% emisi gas yang menyebabkan global warming.
Sementara itu, di negeri-negeri sedang berkembang, penjualan kulkas di
India saja diramalkan meningkat 14% setiap tahunnya.

Melalui subsidi, pajak, penegakan standar industri yang hemat bahan
bakar serta perlakuan lain, kebijakan pemerintah memiliki dampak
langsung pada permintaan dan pasokan energi, efisiensi rumah,
peralatan, mobil dan pabrik-pabrik.

Di Denmark, pajak untuk pendaftaran mobil dibuat sedemikian rupa
sehingga sangat tinggi, melebihi harga jual eceran mobil, sementara
infrastruktur kereta api dan sepeda diperbaiki. Dampaknya: lebih 30%
keluarga tidak memiliki mobil. Jika pemerintah atau perusahaan
mensubsidi transportasi publik, orang akan lebih suka naik bus dan
subway ketimbang dengan sedan.

Di tingkat global, negeri-negeri seperti Amerika lah yang harus
menahan diri untuk mengurangi kerakusannya akan bahan bakar.
Sayangnya, Presiden George Bush tak nampak tergerak. Negeri itu sampai
sekarang menolak Protokol Kyoto yang mengatur emisi buangan energi
agar tidak merusak lingkungan bumi makin jauh.

Di tingkat nasional Indonesia, orang-orang kaya juga harus menahan
diri. Jika mereka tidak bisa menahan diri, pemerintahlah yang
berkewajiban memaksa, melalui instrumen pajak serta kebijakan publik
lainnya.*

Pemikiran tentang :

pengetahuan dasar

Tektonik Lempeng

Tektonik lempeng adalah suatu teori yang menerangkan proses dinamika bumi tentang pembentukan jalur pegunungan, jalur gunung api, jalur gempa bumi, dan cekungan endapan di muka bumi yang diakibatkan oleh pergerakan lempeng.

Lempeng dan pergerakannya

Menurut teori ini kerakbumi (lithosfer) dapat diterangkan ibarat suatu rakit yang sangat kuat dan relatif dingin yang mengapung di atas mantel astenosfer yang liat dan sangat panas, atau bisa juga disamakan dengan pulau es yang mengapung di atas air laut. Ada dua kjenis kerak bumi yakni kerak samudera yang tersusun oleh batuan bersifat basa dan sangat basa, yang dijumpai di samudera sangat dalam, dan kerak benua tersusun oleh batuan asam dan lebih tebal dari kerak samudera. Kerakbumi menutupi seluruh permukaan bumi, namun akibat adanya aliran panas yang mengalir di dalam astenofer menyebabkan kerakbumi ini pecah menjadi beberapa bagian yang lebih kecil yang disebut lempeng kerakbumi. Dengan demikian lempeng dapat terdiri dari kerak benua, kerak samudera atau keduanya. Arus konvensi tersebut merupakan sumber kekuatan utama yang menyebabkan terjadinya pergerakan lempeng.

Akibat Pergerakan Lempeng

Pergerakan lempeng kerakbumi ada 3 macam yaitu pergerakan yang saling mendekati, saling menjauh dan saling berpapasan.

Pergerakan lempeng saling mendekati akan menyebabkan tumbukan dimana salah satu dari lempeng akan menunjam ke bawah yang lain. Daerah penunjaman membentuk suatu palung yang dalam, yang biasanya merupakan jalur gempa bumi yang kuat. Dibelakang jalur penunjaman akan terbentuk rangkaian kegiatan magmatik dan gunungapi serta berbagai cekungan pengendapan. Salah satu contohnya terjadi di Indonesia, pertemuan antara lempeng Ind0-Australia dan Lempeng Eurasia menghasilkan jalur penunjaman di selatan Pulau Jawa dan jalur gunungapi Sumatera, Jawa dan Nusatenggara dan berbagai cekungan seperti Cekungan Sumatera Utara, Sumatera Tengah, Sumatera Selatan dan Cekungan Jawa Utara.

Pergerakan lempeng saling menjauh akan menyebabkan penipisan dan peregangan kerakbumi dan akhirnya terjadi pengeluaran material baru dari mantel membentuk jalur magmatik atau gunungapi. Contoh pembentukan gunungapi di Pematang Tengah Samudera di Lautan Pasific dan Benua Afrika.

Pergerakan saling berpapasan dicirikan oleh adanya sesar mendatar yang besar seperti misalnya Sesar Besar San Andreas di Amerika.

Kegiatan Tektonik

Pergerakan lempeng kerakbumi yang saling bertumbukan akan membentuk zona sudaksi dan menimbulkan gaya yang bekerja baik horizontal maupun vertikal, yang akan membentuk pegunungan lipatan, jalur gunungapi/magmatik, persesaran batuan, dan jalur gempabumi serta terbentuknya wilayah tektonik tertentu. Selain itu terbentuk juga berbagai jenis cekungan pengendapan batuan sedimen seperti palung (parit), cekungan busurmuka, cekungan antar gunung dan cekungan busur belakang. Pada jalur gunungapi/magmatik biasanya akan terbentuk zona mineralisasi emas, perak dan tembaga, sedangkan pada jalur penunjaman akan ditemukan mineral kromit. Setiap wilayah tektonik memiliki ciri atau indikasi tertentu, baik batuan, mineralisasi, struktur maupun kegempaanya.


Pegunungan

Apa bedanya antara gunung dan pegunungan? Tadi telah dijelaskan di atas bahwa gunung merupakan bentuk muka bumi yang menjulang tinggi berbentuk kerucut atau kubah dan berdiri sendiri. Sedangkan pegunungan merupakan suatu jalur memanjang yang berhubungan antara puncak yang satu dengan puncak lainnya, misalnya Pegunungan Yura di Prancis dan Pegunungan Panini di Inggris. Di Indonesia juga banyak ditemukan pegunungan. Coba Anda diskusikan dengan teman, pegunungan yang ada di Indonesia. Benar jawaban Anda, pegunungan dimaksud diantaranya Bukit Barisan di Sumatera.

Apa yang menyebabkan terjadinya pegunungan? Pegunungan terbentuk pada waktu terjadinya gerak kerak bumi yang dalam dan luas. Karena itu daerah pegunungan biasanya relatif luas. Secara sederhana dapat kita membedakan pegunungan tua dan pegunungan muda. Pegunungan tua merupakan pegunungan yang relatif rendah dengan puncaknya yang relatif tumpul dan lerengnya landai. Misalnya Pegunungan Skandinavia dan Pegunungan Australia Timur yang terbentuk pada zaman Primer (Paleozoikum). Sedangkan pegunungan muda pada umumnya tinggi dengan puncaknya yang runcing dan lerengnya relatif curam. Pegunungan lipatan yang paling muda adalah hasil pengangkatan zaman tertier, misalnya Sirkum Mediterania dan sirkum pasifik.

Pegunungan Lipatan

Pegunungan lipatan disebabkan oleh terlipatnya lapisan (strata) sedimen yang besar karena tekanan dari dalam bumi. Akibat proses pelipatan ini, lebar lapisan sedimen menciut sedangkan tebalnya bertambah. Lapisan sedimen yang terlipat itu disebut lipatan atas atau disebut juga antiklinal. Sedangkan lapisan sediment yang terlipat ke bawah dinamakan lipatan bawah atau sinklinal.

Pegunugan lipat terdiri dari endapan-endapan seperti kapur dan lempung, yang terbentuk dari partikel-partikel batu tua, sisa-sisa tanaman dan binatang yang berada di bawah air dan mengeras. Panas bumi dan tekanan merubah beberapa batuan menjadi marmer dan batu tulis. Contoh gunung atau pegunungan lipat adalah pegunungan Himalaya dengan Gn.Everest yakni gunung tertinggi di dunia, pegunungan Alpen di Eropa, dan pegununganAppalachian di Amerika Serikat.


BENTANG ALAM PEGUNUNGAN LIPATAN

Bentuk muka bumi yang ada:

1. Punggungan Sinklin

2. Punggungan Antiklin

3. Punggungan Kuesta (kemiringan dipslope/bidang


Keterangan :

1. Punggungan Sinklin yaitu punggungan-punggungan yang terbentuk pada struktur sinklin akibat erosi dikiri – kanan sumbu sinklin.

2. Punggungan Antiklin yaitu Konfigurasi geologis yang lapisan-lapisan batuan sedimennya terlipat dan membentuk struktur yang cembung ( keatas ).

3. Punggungan Kuesta (kemiringan dipslope/bidang lapisan batuan 10o – 15o) : ridge asymetri dengan lereng landai yang dikontrol oleh kemiringan lapisan batuan dibawahnya.

4. Punggungan Homoklin ( homoclinal ridges (15 o – 45 o) ) yaitu bagian bukit yang terbentuk oleh lapisan-lapisan batuan yang berstruktur miring searah. Biasanya berasosiasi dan sejajar dengan lembah homoklin.

5. Punggungan Hogback (>= 45 o) yaitu punggungan yang apabila sudut yang dibentuk oleh perlapisan batuan dengan bidang datar relatif besar atau > 45°.

6. Lembah Sinklin yaitu Konfigurasi geologis yang lapisan-lapisan batuan sedimennya terlipat dan membentuk struktur yang cekung ( kebawah )

7. Lembah Antiklin (anticlinal valley ) yaitu lembah-lembah yang terbentuk diatas struktur antiklin, karena punggung antiin tererosi dengan kuat.

8. Lembah Homoklin ( homoclinal valley ) yaitu bagian lembah subsekuen dari bentang alam yang tersusun oleh lapisan-lapisan batuan yang berstruktur miring searah.

9. Kubah Antiklin adalah kubah yang dulunya merupakan punggungan antiklin.

10. Kubah Intrusi Garam ( Salt Dome ) : Kubah yang terjadi karena lapisan garam menekan lapisan sediment diatasnya.

11. Dataran Denudasional Struktur Sesar adalah dataran yang merupakan kesatuan dari proses pelapukan, gerakan tanah, erosi dan diakhiri dengan proses pengendapan.



Pemikiran tentang :

Timeliness....

Search on blog

Translate

Forecast Weather

Rupiah Exchange Rates ( IDR )

Rush hour Blog

Fight To our Earth....Go green

Brighter Planet's 350 Challenge
NonCommercial,Nonprofit. Diberdayakan oleh Blogger.